Studi Kasus: Optimalisasi Portofolio Saham LQ45 Berbasis Teori Markowitz dan Sharpe
Seorang analis data keuangan di Yogyakarta ditugaskan untuk mengoptimalkan alokasi dana sebesar Rp100.000.000 ke dalam dua saham unggulan di sektor yang berbeda: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mewakili sektor finansial, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mewakili sektor infrastruktur/telekomunikasi. Tujuannya adalah menemukan kombinasi bobot modal terbaik (w) yang menghasilkan risiko paling minimal, sekaligus mengukur efisiensi kinerjanya menggunakan instrumen bebas risiko seperti Obligasi Pemerintah (SBN)
Kesimpulan Studi Kasus
Jadi, analisis data berbasis Teori Markowitz membuktikan secara matematis bahwa alokasi modal berbasis fakta yaitu Rp60 juta (60%) di BBCA dan Rp40 juta (40%) di TLKM berhasil memotong risiko portofolio secara drastis menjadi hanya 11,54%. Kombinasi aset dengan korelasi lemah ini terbukti sangat efisien karena menghasilkan imbal hasil optimal 15,6% dengan performa investasi yang sehat (Sharpe Ratio 0,83), sekaligus menegaskan pentingnya mengubah spekulasi menjadi keputusan berbasis data (data-driven).
Menguji Efisiensi Kinerja Kuantitatif (Sharpe Ratio)
Untuk membuktikan bahwa keputusan alokasi berbasis analisis data ini logis dan bukan sekadar spekulasi, hitung rasio imbal hasil terhadap risiko (Sharpe Ratio):
Substitusi angka:
Hasil: Nilai Sharpe Ratio sebesar 0,83 menunjukkan bahwa setiap 1% risiko yang diambil oleh investor memberikan kompensasi excess return (keuntungan bersih di atas instrumen bebas risiko) sebesar 0,83%.
Menghitung Risiko Portofolio
Menggunakan rumus kovarians dua aset
Substitusi angka:
σA2 = (0,6)2(0,12)2 + (0,4)2(0,20)2 + 2(0,6)(0,4)(0,12)(0,20)(0,15)Sigma A kuadrat sama dengan 0,6 kuadrat kali 0,12 kuadrat, ditambah 0,4 kuadrat kali 0,20 kuadrat, ditambah dua kali 0,6 kali 0,4 kali 0,12 kali 0,20 kali 0,15.
σA2 = (0,36 × 0,0144) + (0,16 × 0,04) + 2(0,24)(0,024)(0,15)Sigma A kuadrat sama dengan 0,36 kali 0,0144, ditambah 0,16 kali 0,04, ditambah dua kali 0,24 kali 0,024 kali 0,15.
σA2 = 0,005184 + 0,006400 + 0,001728Sigma A kuadrat sama dengan 0,005184 ditambah 0,006400 ditambah 0,001728.
σA2 = 0,013312Sigma A kuadrat sama dengan 0,013312.
Untuk mendapatkan total volatilitas (risiko riil), kita akarkan nilai varians di atas:
Hasil: Risiko total portofolio berhasil ditekan hingga 11,54%.
Pengumpulan Data Historis (The Dataset)
Setelah menarik data historis pergerakan harga saham bulanan, tim analisis data memperoleh metrik statistik sebagai berikut:
Ekspektasi Imbal Hasil (E(R))
| Saham | Nilai |
| Saham BBCA (E(RA)) | 14% (0,14) |
| Saham TLKM (E(RB)) | 18% (0,18) |
Risiko/Volatilitas (Standar Deviasi σ)
| Saham | Nilai |
| Saham BBCA (σA) | 12% (0,12) |
| Saham TLKM (σB) | 20% (0,20) |
- Koefisien Korelasi (ρA,B)
- 0,15 (Menunjukkan kedua saham memiliki hubungan pergerakan yang searah namun sangat lemah, kondisi ideal untuk diversifikasi).
- Tingkat Bebas Risiko / Risk-Free Rate (Rf)
- 6% (0,06) berdasarkan rata-rata imbal hasil SBN (Surat Berharga Negara)
Analisis menguji skenario alokasi modal seimbang:
| Saham | Bobot |
| Bobot BBCA (wA) | 60% (0,60) |
| Bobot TLKM (wB) | 40% (0,40) |
Menghitung Ekspektasi Imbal Hasil Portofolio
Menggunakan rumus rata-rata tertimbang bobot modal:
Substitusi angka:
Diperoleh ekspektasi imbal hasil portofolio sebesar 15,6%.